Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Putus Sekolah Jenjang SMA/Sederajat di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2019

Authors

  • Yaya Setiadi Politeknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistik

DOI:

https://doi.org/10.21831/pspmm.v3i0.144

Keywords:

putus sekolah, DKI Jakarta, regresi logistik biner

Abstract

Angka putus sekolah (APTS) merupakan masalah pendidikan di Indonesia yang belum bisa terselesaikan hingga saat ini. Jenjang pendidikan SMA/Sederajat menjadi jenjang dengan angka putus sekolah tertinggi di Indonesia pada tahun 2019, dan DKI Jakarta yang merupakan provinsi maju di Indonesia justru menjadi provinsi dengan APTS jenjang SMA/Sederajat tertinggi di Indonesia tahun 2019. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan menemukan karakteristik dan faktor-faktor yang mempengaruhi status putus sekolah anak pada jenjang SMA/Sederajat di DKI Jakarta tahun 2019. Hasil penelitian ini menemukan bahwa karakteristik anak putus sekolah jenjang SMA/Sederajat di DKI Jakarta tahun 2019 adalah anak dengan jenis kelamin laki-laki, memiliki ART maksimal 4 orang, memiliki KRT berpendidikan tertinggi maksimal SMP/Sederajat, dan lapangan pekerjaan KRT di sektor non pertanian. Dengan menggunakan model regresi logistik diperoleh bahwa tingkat pendidikan KRT dan lapangan pekerjaan KRT berpengaruh signifikan terhadap status putus sekolah jenjang SMA/Sederajat di DKI Jakarta tahun 2019. Selain itu, penelitian ini juga menemukan bahwa anak yang memiliki KRT berpendidikan maksimal SMP/Sederajat dan KRT yang bekerja di sektor pertanian maupun pengangguran memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk putus sekolah di jenjang SMA/Sederajat.

References

Badan Pusat Statistik (BPS). (2016). Protret Pendidikan Indonesia Statistik Pendidikan 2016. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

Aristin, N. F (2015). Faktor – faktor yang Berpengaruh terhadap Anak Putus Sekolah Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kecamatan Bondowoso. Jurnal Pendidikan Geografi, 20(1).

Hidayat, R & Hastuti, Y. (2017). Analisis Survival Dalam Memodelkan Siswa Putus Sekolah. Jurnal Scientific Pinisi. Vol 3, No 2, (2017): 123-127.

Asmara, Y. R. I & Sukadana, I. W. (2016). Mengapa Angka Putus Sekolah Masih Tinggi? (Studi Kasus Kabupaten Buleleng Bali). E-Jurnal EP Unud, 5(12): 1347-1383.

Temu, C. C, dkk. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Putus Sekolah Usia SMA di Provinsi NTT Tahun 2016. [Skripsi]. Jakarta: Politehnik Statistika STIS.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). (2013). UU No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Diakses melalui http://simkeu.kemdikbud.go.id/index.php/peraturan1/8-uu-undang-undang/12-uu-no-20-tahun-2003-tentang-sistem-pendidikan-nasional pada 15 Desember 2019 pukul 20.13

Perhati, T. A., Indahwati., & Suseto, B. (2017). Identifikasi Karakteristik Anak Putus Sekolah di Jawa Barat dengen Regresi Logistik. Indonesian Journal of Statistics and Its Applicatons. 1(1).

Sugianto, E. (2017). Faktor Penyebab Anak Putus Sekolah Tingkat SMA di Desa Bukit Lipai Kecamatan Batang Cenaku Kabupaten Indragiri Hulu. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. 4(2)

Dewi, Ratih Kusuma. (2010). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketahanan Siswa Usia 7-15 Thun Terhadap Program Wajib Belajar Sembilan Tahun 2009 di Provinsi DKI Jakarta. [Skripsi]. Jakarta: Sekolah tinggi Ilmu Statistik

Hellyan. 2007. Analisi Gender pada Pendidikan Anak Usia Sekolah di Sumatera Barat. Padang: Fakultas Pertanian UNAND.

Hosmer, D. W., Lemeshow, S., & Sturdivant, R. X. (2013). Applied Logistic Regression. Canada: sJohn Wiley & Sons.

Published

2021-05-09